HyperText Thrones

← Posts

Dua Garis Biru

Deden Fathurahman
2 minute read (483 words)

dua garis biru

Bercerita tentang 2 anak Bima dan Dara, dan seperti judulnya, mengenai 2 garis, hamil dan bagaimana mereka sampai kesana dan bagaimana mereka menghadapi itu semua setelah positif. 2 garis.

Tentunya kita semua tahu bagaimana mereka sampai ke posisi, tapi yang sangat menarik di film ini bagaimana 2 anak menghadapi ini semua, diceritakan mereka adalah murid kelas 3 SMU[A] (U atau A sih sekarang?), yang pastinya hormonnya sedang naik-naiknya, ingin mengetahui ini itu terkait dengan sistem di tubuhnya. Di film tidak diceritakan secara detail apalagi vulgar bagaimana itu terjadi (masih bingung dengan ada petisi penolakan film ini atas dasar apa), yang pasti, itu semua sudah terjadi.

Di sini mulai terjadi konflik, emosi penonton (setidaknya saya) yang dibuat naik turun oleh Gina S. Noer sang sutradara, pembangunan karakter dari masing-masing peran sangat bagus, dinamika personal dari Bima, Dara dan masing-masing anggota keluarga. Bima, Dara diceritakan tetap seperti anak SMA pada umumnya, tidak tiba-tiba menjadi dewasa karena kejadian ini, tapi yang pasti mereka belajar banyak, anggota keluarga masing-masing juga, tentang kehidupan, keputusan, kemanusiaan.

Para pemeran di film ini all out, lama tidak melihat Lulu Tobing, aktingnya hebat, Cut Mini sangat mendalami karakternya sebagai ibu dari Bima, dan bagaimana dia menghadapi ini semua sebagai seorang ibu, luar biasa aktingnya.
Ada satu adegan yang diambil one single shot (long take), berdurasi lumayan lama, mungkin ada sekitar 5 menit(?), entah berapa lama masing-masing pemeran latihan untuk adegan tersebut, tapi itu semua luar biasa hasilnya, seperti menyaksikan koreografi yang ditata halus, keluar masuk karakter di dalam adegan itu sangat natural, emosi yang dibangun sampai klimaksnya adegan tersebut, menakjubkan.

Hal lain yang saya perhatikan adalah suara, sound engineer (penata suara?)-nya sangat memperhatikan detil dari lingkungan dimana ada adegan, suara orang ngobrol di kanan, kemudian ada suara penjaja makanan di kiri, sampai berpikir kalo ini ada orang berisik banget ngobrol di bioskop pas film lagi jalan, padahal itu dari film.

Dari film ini sangat banyak yang bisa dicerna, dan mencoba menghilangkan atau setidaknya mengurangi tabu yang ada di masyarakat, seperti tidak membahas hal-hal yang mengandung seks, seperti kutipan didialog film, kurang lebih ”kok bisa ya sampai kesini, padahal kalau ada adegan ciuman kamu ibu tutup matanya”, dan memang hal ini tidaklah cukup, perlu bahasan lebih, perlu obrolan dari hati ke hati dengan anak yang beranjak remaja, dimana tubuh mereka sedang mencari tahu itu semua, dan akan sangat fatal kalau mereka tahu itu dari luar yang belum tentu benar.

Pendidikan seks bukan melulu soal hubungan seksual, tapi banyak faktor, anak mempelajari alat reproduksi yang mereka punya, akibat-akibat apa yang akan terjadi, misalkan kenapa perempuan haid, itu salah satu bahasan dari banyak bahasan tentang pendidikan seks. mulai terbuka dengan pemikiran yang terbuka, tidak perlu langsung menghakimi bahwa membahas ini adalah suatu dosa, karena jika kelak mereka menikahpun, mereka sudah punya ilmu yang benar berasal dari sumber yang benar.

Tayang di bioskop 11 juli 2019.


Comments