HyperText Thrones

← Posts

Logical Fallacy/Kesesatan berpikir

Deden Fathurahman
2 minute read (409 words)

“Macet banget tolnya, dari sini ke sini aja yang notabene cuman 7KM ngabisin 5 jam, makasih loh presiden baru…”

Ya tentu saja itu sebuah sarkasme dari status di media sosial yang diunggah oleh orang lain, dan memang saat itu macet luar biasa, entah kenapa, padahal tidak ada apa-apa, pekerjaan tol atas pun tidak ada (kemacetan ini di jalur japek), tahu karena saya juga terkena macet itu.

Dari cara berpikir ini, bisa dikategorikan fallacy atau dalam bahasa indonesia diartikan kesesatan, dikategorikan sebagai jenis kesesatan sebab-akibat, atau Kesesatan non causa pro causa (post hoc ergo propter hoc/ false cause), jika kita terapkan fallacy/kesesatan ini dengan unggahan di sosial media di atas adalah

Karena presidennya A, maka jalan tol ini menjadi macet

Atau kita bisa ambil contoh lebih ekstrim, seperti video di sini mengenai kemarau yang terjadi, salah siapa? lihat sendiri.

Kesesatan/fallacy yang lain muncul di masyarakat saat ini adalah Composition/Division yaitu fallacy yang percaya bahwa jika sesuatu berlaku untuk sebagian dari suatu sistem, maka berlaku juga bagi seluruhnya. Begitu juga sebaliknya1.

  1. Di beberapa daerah paslon 3 ketika kampanye ramai sekali
  2. Di daerah saya, paslon 3 kampanye juga ramai
  3. Maka dari itu, paslon 3 ketika pemilihan seharusnya menang

Menurut artikel dari Tribunnews ini (penekanan kalimat dari saya),

Pembiaran tanpa koreksi inilah yang menyebabkan tumpulnya rasa bersalah pengguna gadget bertipikal hoax serta minimnya tanggungjawab moral produsen gadget mencerahkan sisi positif dan negatif produk it baik dari sisi teknologi hukum dan sosial budaya( pengetahuan produk) .Minimnya edukator dari unsur aparatur negara yang mensosialisasikan uu ite ke masyarakat luas juga berkontribusi pada situasi maraknya fenomena hoax.

Ini bisa jadi benar, dengan mudahnya saling berbagi tautan, gambar, pesan berantai, yang salah, dan tidak ada yang melakukan pembenaran, atau dibiarkan, menjadikan kesesatan berpikir ini menjadi masif, dan sialnya, karena orang yang menyebarkan itu orang yang kita kenal, atau dituakan misalkan, tanpa klarifikasi atau tabayyun, akan langsung mempercayai hal itu, penyebaran bisa terjadi di Facebook, Twitter, Instagram, grup WhatsApp, Youtube.

Permasalahan kurang maunya membaca, atau terlalu malas untuk mencari tahu menjadikan hal ini makin subur makmur, entah sampai kapan polarisasi, kesesatan berpikir ini akan terus terjadi.

TIPS: selalu bersikap skeptis terhadap berita atau pesan berantai yang ada didapat dari internet (whatsapp, instagram, facebook, twitter, youtube, website abal2, karena inilah internet menurut kebanyakan masyarakat :rofl:)


Comments