← back to home

Diet Informasi



Photo by Steve Johnson

Diet seperti banyak kata yang terkadang sering disalah artikan, jika diet ini dalam konteks makanan, maka di sini lebih kepada memilih apa yang dikonsumsi, dan lebih awas dengan apa yang dikonsumsi, baik jumlah maupun kandungannya.

Tidak berbeda juga dengan diet informasi, kita memilih sendiri informasi apa yang akan kita konsumsi, dan dari kanal apa informasi itu diterima atau dikonsumsi, dan juga mengukur informasi apa saja yang kita telan..

Saat ini informasi sangat-sangat banyak, dengan banyaknya pipa sumber informasi dan membuat kita kewalahan, bagaimana otak kita memproses informasi, menyaring informasi, apalagi dengan era media sosial, ”informasi” menjadi terasa teramat sangat banyak, informasi yang baik, informasi buruk dan terkadang kita tidak mampu memfilternya, misalkan melihat tweet, atau pesan di whatsapp tentang sesuatu dan tanpa berpikir langsung retweet, forward dan ikut menyebarkan, tanpa kita tahu benar atau tidak.

Kejadian di atas sering sekali terjadi, terlebih ketika masa-masa pemilihan presiden, informasi yang salah, opini yang berkedok berita, doktrin-doktrin yang dituliskan orang-orang, menjadikan informasi yang benar menjadi mahal, media memberitakan opini dengan headline yang bombastis, demi klik dan jumlah orang yang melihat iklan.

Disadari atau tidak, orang-orang membuat versi kenyataan mereka sendiri-sendiri, membaca berita a, kemudian berita b, kontradiksi antar berita-berita, ditambah dengan confirmation bias, pikiran, opini, pengaruh lingkungan yang menjadikan pandangan kita terhadap sesuatu atau cara kita memandang realita berbeda satu sama lain, yang terburuk adalah informasi menjadikan orang-orang ”terinformasi” tetapi memiliki pandangan sempit, dan mencoba menulari orang lain dengan opini, doktrin dan pandangannya.

Ada baiknya kita mencoba untuk memelan, mencoba untuk mencerna informasi yang ada pelan-pelan dan hati-hati, dan dengan konteks diet, dengan memilih informasi yang kita konsumsi menjadi lebih mudah agar tidak ada reality distortion dalam kepala kita.

Mengurangi durasi media sosial

Input yang banyak di media sosial dari orang-orang yang kita kenal, bahkan saudara, tidak menjadikan informasi itu menjadi benar, bahayanya media sosial, karena informasi yang salah dari orang yang kita kenal, maka kita cenderung percaya akan itu.

Kita terbiasa dengan Facebook, Twitter, Instagram, Snapchat, TikTok(?), WhatsApp, dan lainnya, dan terkadang informasi saling bertumpang-tindih, benar atau salah, meski salah, jika terus membaca, mendengar, melihat yang salah, otak kita cenderung berpikir itu menjadi kebenaran.

Mengurangi durasi di media sosial, atau menghapus aplikasi media sosial, dan yang lebih ekstrim mengurangi akun di media sosial dengan delete akun, bisa mengurangi informasi berlebih dan juga tidak selalu ingin update akan sesuatu yang belum tentu penting untuk kita.

Membuat jurnal

Bukan dengan membuat realita sendiri, membuat jurnal dengan melakukan investigasi pada diri sendiri, menuliskan apa yang ada di kepala yang kemudian kita tantang tulisan tersebut baik sisi kebenaran, akurasi dan lainnya, yang menjadikan kita lebih aware terhadap sekitar, lebih bisa mengenal diri sendiri, dan dimana kekurangan yang kita miliki.

Matikan notifikasi

Di smartphone yang saat ini umum dimiliki oleh orang-orang, dan memiliki fitur notifikasi, baik notifikasi ketika seseorang ”Like” postingan kita, atau ngasih tau ketika orang yang kita stalk sedang online atau tidak, dan hal-hal lain yang menjadikan kita menjadi lebih menyita waktu kita dengan smartphone.

Hasil riset menunjukkan bagaimana smartphone mengubah banyak hal dalam kehidupan kita, terutama cara kita berpikir, cara kita berinteraksi dan bagaimana kita melihat dunia ini.

Dengan mematikan notifikasi, setidaknya kita menghapus rasa keharusan membuka smartphone setiap waktu, dan menghindari Nomophobia.

Membaca buku fisik

Ini mungkin bukan untuk semua orang, tapi ini berhasil untuk saya sendiri, dengan menggenggam buku, merasakan kertas di tangan dan membacanya sangat berbeda dengan apa yang dirasakan ketika membaca sesuatu di smartphone, membaca buku fisik itu melatih kesabaran, dan menikmati susunan kata, mencerna.


Tags: Self Development, Productivity, Psychology