HyperText Thrones

← Posts

Fitnah dan buruk sangka

Deden Fathurahman
1 minute read (245 words)

Suatu kisah yang menarik yang bisa banyak dipetik pelajarannya dalam hidup ini, agar tidak terburu-buru dalam melakukan penilaian, tanpa check-recheck (tabayyun), apalagi menyebarkan fitnah tersebut kepada orang lain, tentu selengkapnya bisa dibaca ditautan berikut tentang bulu kemoceng dan fitnah kepada sang kiai.

Bulu-bulu yang kamu cabuti dan kamu jatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kamu sebarkan. Meskipun kamu benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yg beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kamu duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kamu hitung!.

Baru-baru ini kisah ini banyak terjadi, terlebih terjadi terhadap orang yang justru seharusnya punya banyak ilmu dan ke-tawadhu-an dalam berlaku, ambil contoh yang terjadi pada Tengku Zulkarnain, beliau menduduki Wasekjen MUI, dan beliau menlepaskan bulu-bulu dari kemocengnya, dengan menyebarkan kekeliruan dan cenderung memfitnah tanpa membaca.

Bulu tersebut mulai tersebar dibanyak media, ini termasuk bulu kemoceng yang bisa dikumpulkan ‘sang santri’ atau yang terlihat, lebih banyak lagi bulu-bulu yang tidak dapat dicari lagi dan dikumpulkan karena sudah tersebar di banyak sosial dan WhatsApp group, ‘bulu-bulu’ itu tidak dapat ditarik kembali, meski ‘sang santri’ sudah minta maaf, disini, disini, dan dibanyak lagi.

Orang yang bodoh hanya mendengar setengah, (jika) mengerti hanya seperempat (mungkin kurang), tetapi bereaksi dua kali lipat bahkan cenderung melebih-lebihkan dan mengandung fitnah.

Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang tersebut.

Wallahu A’lam Bishawab