HyperText Thrones

← Posts

Tentang Hijrah

— 3 minute read (639 words) — in post

Ini topik yang mungkin sebenarnya agak tabu untuk dibicarakan, karena akan sangat ‘mengganggu’ bagi beberapa orang, karena topik ini berkaitan dengan apa yang mereka percayai, dan ini isinya mungkin kebanyakan adalah suatu pengamatan, komplen, dan ketertarikan atas fenomena ini.

Kalau kita lihat saat ini banyak sekali wanita dan pria yang melakukan transformasi, dari sisi perbuatan dan juga yang mudah terlihat, yaitu pakaian. Perubahan ini menjadi satu milestone yang menunjukkan bahwa orang tersebut telah mendapatkan pencerahan, saya akan coba membahas dari sisi pilihan finansial dan pakaian. Perubahan yang terjadi dalam hidup yang bersangkutan ini banyak disebut oleh orang-orang sebagai Hijrah, dari tadinya menggunakan pakaian yang terbuka, sekarang menjadi tertutup, terkadang yang wanita lengkap dengan hiqab, dan yang lelaki celana menjadi lebih pendek dari biasanya. Jangan salah sangka, saya pribadi tidak ada masalah dengan hal itu semua, sama sekali, itu pilihan, sama seperti mungkin ada yang memilih menggunakan jeans, kaos.

Yang menarik dari fenomena ini adalah makin menjamurnya produk yang mendukung transformasi orang-orang, makin banyak pula tercipta satu bentuk bisnis baru, dari mulai pakaian wanita (abaya, gamis dan lainnya), sampai dengan kaos-kaos yang bertuliskan isinya kutipan ayat al-qur’an, di sinilah saya terkadang mengernyitkan dahi, memang ini tidak terjadi di semua orang, tapi kasus ini ada, dari kebanyakan (ingat tidak semua) yang saya lihat, baju yang dibeli atau digunakan setidaknya mahal, 500 ribu menurut saya mahal, bahkan ada yang diatas 1 juta, seperti Abaya misalkan, kemudian hal lain, seperti hijab, hiqab dan aksesoris lainnya, terkadang iseng untuk kalkulasi itu semua, setidaknya sekali jalan menggunakan pakaian 700 ribu - 1.5juta, tergantung dari merk yang dipakai.

Ini bukan nyinyir atau julid atau apalah, hanya mencoba mencerna fenomena ini

Selanjutnya untuk para pria-nya, selain tadi celana agak naik (ada yang berargumen ini dari shahih bukhori), juga dengan kaos yang isinya kutipan ayat yang mungkin mereka akan memakai itu ke kamar kecil, meski adabnya adalah tidak membawanya, “tapi kan ini sudah diterjemahkan ke bahasa indonesia!”, yah, memang sih, tapi tetap, terjemahan itu bagian dari al-qur’an, hal ini tidak bisa dibantah.

Selanjutnya dengan gempuran kosmetik, selain ada yang menutup muka untuk wanita, untuk yang tidak tetap ada yang menggunakan kosmetik mungkin supaya terlihat lebih segar (untuk menggunakan kata ‘menarik’ akan sangat ofensif tentunya), maka diperkenalkan kosmetik dengan label halal atau hijrah, tentunya dengan menampilkan model yang menurut saya cantik tetapi juga berhijab.

Selanjutnya keputusan finansial, banyak yang orang ‘hijrah’ ini juga merupakan orang yang anti riba, memang riba haram di islam, hanya saja yang saya coba fokuskan di sisi inkonsisten-nya, dan mungkin banyak yang tidak tahu juga konsep atau prinsip-prinsip bank syariah, apa bedanya dengan konvensional dan faktor lain, cenderung langsung menggunakan asal ada label ‘syariah’, lagi saya tidak punya masalah dengan ini, saya pun punya satu akun bank syariah. Untuk perbankan mungkin bisa memilih syariah, hanya saja dikehidupan sehari-hari tidaklah semudah itu, satu atau dua hal pasti akan ada masanya harus menggunakan layanan konvensional (meski kadang dipilih layanan mana yang mengandung riba atau tidak di bank konvensional ini).

Puncaknya adalah ketika membaca tentang acara HijrahFest, bisa googling sendiri tentang ini, hal ini bagus untuk memajukan ekonomi, hanya saja saya masih mencoba mengerti soal ini, mungkin terlalu serius mikir, kadang bertanya, apa semua tenant yang ikut di situ apa sudah pasti menggunakan bank syariah ketika menjalankan usahanya? apakah tenant dan pengunjung menggunakan EDC bank konvensional untuk transaksi di sana? pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang menjadi perhatian saya.

Mungkin iya, saya terlalu serius menanggapi hal ini.

Saya teringat Gus muwaffiq dalam melihat fenomena ini, menurut beliau, hijrah, pada masa Nabi Muhammad SAW, hijrah itu adalah kebenaran yang sudah benar yang saat itu tidak bisa lagi diajarkan di mekah, maka nabi Muhammad SAW hijrah/pindah ke Madinah, dimana beliau mengajarkan islam di sana, dan berkembang. Sementara itu, untuk kasus hijrah di sini, dari proses sebelum memakai pakaian syar’i kemudian menggunakan pakaian syar’i, ini tidak disebut hijrah, melainkan taubat.

wallahua’lam bissowab.