HyperText Thrones

← Posts

Teori konspirasi dan keagamaan

— 2 minute read (482 words) — in post

i see chaos...

Photo by Steve Johnson on Unsplash.

Akhir-akhir ini ramai sekali pembicaraan (atau polemik) mengenai desain dari masjid Al-Safar di km 88 purbalenyi, hal ini mencuat ketika salah-satu-yang-menyebut-dirinya-ustad berpendapat bahwa masjid tersebut dipenuhi simbol-simbol illuminati, yakni kelompok yang hendak mendominasi dunia dengan segala triknya, dan juga diasosiasikan dengan Dajjal, karena ada segitiga dan satu mata di mihrabnya.

Hal ini juga seperti biasa dibawa didiskusi grup WhatsApp keluarga (biasanya ini tempat hoax/disinformasi/misinformasi berada 🤣), semakin menyebarnya keanehan ini, dan bahkan dari pendapat salah-satu-yang-menyebut-dirinya-ustad ini meminta umat islam untuk tidak sholat di masjid tersebut, karena tidak sah sholatnya.

Menurut artikel yang dimuat oleh Tirto, melalui sosiolog UNY Amika Wardhana, diungkapkan alasan-alasan kenapa orang-orang menjadi seperti ketakutan dengan simbol-simbol adalah (tulisan miring tambahan dari saya)

Saya pribadi melihat ini miris, pemikiran orang-orang menjadi mundur, ketakutan tidak beralasan (atau ada tapi dibuat-buat) menjadi suatu kebenaran adanya, merasa menjadi korban dari tangan yang tak terlihat, belum lagi dengan adanya istilah post-truth, ”aku percaya, maka dari itu aku benar”, tanpa adanya tabayyun atau pengecekan ulang, dan tanpa belajar dengan membaca banyak buku, ilmu pengetahuan dan lain-lain (ironisnya, bacalah adalah hal pertama yang diperintahkan oleh Alloh pada nabi muhammad saw).

Hal-hal semacam teori konspirasi atau bumi datar, anti vaksin, dan yang mirip-mirip, sangat menghina kecerdasan manusia, dengan majunya beragam ilmu pengetahuan, seharusnya manusia menjadi semakin maju, tapi tidak, dengan banyaknya informasi sepertinya banyak yang mencari perlindungan dengan mempercayai hal-hal diluar nalar, karena itu memberikan mereka kenyamanan, dan kemudian tambahkan agama di dalamnya, lengkap. ”tidak mau membaca, tidak mau mencari informasi yang benar, tapi mempercayai hal yang salah, tapi karena aku percaya, maka dari itu aku benar. ”, hal ini tentunya diperparah dengan membagikan pendapat, fantasinya seperti yang dilakukan salah-satu-yang-menyebut-dirinya-ustad ke khalayak, dan sialnya, salah-satu-yang-menyebut-dirinya-ustad tersebut menemukan panggungnya, banyak yang percaya, bahkan takbir dimana-mana (lihat sendiri https://www.youtube.com/watch?v=xJX5jy1dkXQ).

Artikel lain yang mencoba mengangkat hal ini, mengenai bacang dan celana dalam, dikemas dengan menarik.

Banyak hal yang lebih penting yang bisa diurus sebenarnya, hanya saja, kita terlalu bodoh dan ignorant untuk melakukan hal tersebut, lebih gampang mempercayai hal yang semacam ini dari pada membaca buku berlembar-lembar, lebih mudah menonton video youtube mengenai ini, lebih mudah melihat potongan gambar meme di instagram yang berisi hoax/disinformasi/misinformasi daripada mengecek kebenarannya, dan banyak yang merasa ketika melakukan reshare, mereka merasa bahwa sudah melakukan suatu kebajikan yang pasti mendapatkan pahala.


Comments